Rabu, 13 Maret 2013

Sang Merah Putih Dan Aku



“Sungguh...sungguh!!! tidak terasa aku masih diberi kesempatan untuk berpijak ditahun baru ini.” Seraya mataku masih terpejam. Welcome 2012, manusia bisa memprediksi bahkan film yang menggemparkan tentang kiamat 2012 pun bisa saja menggoyahkan manusia. Tapi, itu tidak membuatku behenti bermimpi karena semuanya kembali kepada kehendak Yang Maha Kuasa. Yups,,, aku hampir lupa! Namaku Eirene Agustina, dan nama panggilanku Eiren. Umurku 16 tahun tapi nanti pada tanggal 16 agustus. Aku sekarang kelas 2 SMA, aku bercita-cita menjadi seorang Hakim, dan aku mengikuti ekstrakulikeler Paskibra. Sungguh betapa aku mencintai paskibra, walaupun tahun 2011 kemarin aku tidak lulus seleksi untuk paskibraka provinsi dan kota, apa lagi nasional, namun itu tidak membuatku lelah dan putus asa. Masih ada 1 kesempatan lagi untuk aku bisa menggapai mimpiku, yaitu ditahun ini.

“Eiren, Ren, Ren!!!” panggilan tersingkatku. Dengan spontan aku melompat dari tempat  tidurku, dan aku langsung membukakan pintu kamarku. “iya bunda!!!” jawabku. “sekarang kamu mandi, bunda mau ajak kamu sayang!” perintah bunda dengan lembut.  Bunda adalah seorang ibu yang  kuat dan tegar, dia adalah malaikat ku yang selalu memberi semangat, mengajarkanku tentang perjuangan dan kerja keras. “ kemana bun?” tanyaku. “Hmmm, ada deh!! Sudah jangan banyak tanya, kamu mandi sana.” Tegas bunda. “Yah kok gitu sih bun!!! Ya udah aku mandi dulu ya bun!” seruku. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap karena aku akan pergi bersama bunda pagi ini. Kemanapun asal bersama bunda, aku selalu merasa senang. “Bun, bun, bunda! bunda dimana?” panggilku. Ini bukan baru pertama kalinya aku panik seperti ini, aku takut kalau sakit bunda kambuh lagi. “Hayo!!! Kenapa kamu teriak-teriak kayak itu?” tegur bunda mengejutkanku. “Bunda... syukurlah!” seruku dengan pelan dengan mata yang berkaca-kaca. “sayang, kamu pasti khawatir kalau bunda kenapa-kenapa ya? Maafin bunda ya! Tadi bunda keluar antar pesanan ibu Rt.” Jawab bunda sambil memegang pipiku. Aku hanya diam dan menganggukkan kepala, aku langsung memegang tangan bunda dan rasanya tidak ingin aku lepaskan. Untuk kali ini aku benar-benar tidak bertanya apapun pada bunda, aku hanya mengikuti kemana bunda akan bawa aku pergi. Tapi, “Bunda, mengapa kita kesini? Disini kan barang-barangnya mahal bun!” tanyaku spontan. “Ren, sepatu kamu sudah rusak dan bunda gak sampai hati lihat kamu bertahan dengan sepatu itu! Lagi pula pasti kamu tidak nyaman kan dengan sepatu itu? apalagi waktu kamu latihan Paskibra!” jawab bunda. “Bun! Eiren gak...” seruku langsung dipotong oleh bunda. “Sudah, ayo kita pilih sepatu untuk kamu!” tegas bunda. “Bunda, aku berjanji aku tidak akan mengecewakan bunda! Aku akan berjuang menggapai mimpiku, termasuk mimpi besarku untuk  bisa menjadi salah satu pasukan pengibar bendera seperti bunda dulu!” Janjiku dalam hati. Setelah mendapatkan sepatu untukku bunda mengajak aku jalan-jalan, sampai tidak terasa hari sudah sore. Ya tentunya kita juga bergegas pulang karena sampai dirumah pun bunda dan aku harus membuat kue pesanan dan juga kue yang akan dijual bunda, bunda juga menitipkan kuenya ke warung-warung, dan tentunya aku juga membawa kue untuk titipkan dikantin sekolahku. Dengan hasil berjualan kue inilah kami bisa bertahan hidup dan aku tetap bisa sekolah. Walaupun begitu aku tidak malu, karena ini pekerjaan yang halal. Lagian masih banyak yang mau berteman denganku tanpa melihat status ekonomiku. 

“Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, disanalah aku berdiri jadi.....” bunyi alarm dihandphoneku yang langsung aku matikan. Hari ini pertama masuk sekolah di tahun 2012, harus menyambutnya dengan semangat yang baru juga. Setelah aku selesai mandi dan bersiap-siap, aku biasanya selalu sarapan buatan bunda. Aku mungkin termasuk anak yang dimanja, karena aku memang anak satu-satunya dan juga semenjak ayah meninggal, cuma aku yang menemani bunda. Betapa lembutnya kasih sayang bunda, sehingga aku selalu ingin menatap wajahnya. “ Ren, ini kuenya bunda letakkan dikeranjang sepeda ya!” seru bunda. “iya bunda! Trima kasih.” balasku. Jam menunjukkan setengah 7, saatnya berangkat sekolah dan tidak lupa berpamitan dengan bunda. Kurang lebih 5 km jarak tempuh dari rumah ke sekolahku, dan setiap hari aku berangkat ke sekolah dengan naik sepeda. “Hai Ren!” sapa Via temanku yang juga ke sekolah dengan sepeda. Tapi, bukan karena dia gak punya motor atau mobil, karena Via memang tidak sombong dan katanya dia lebih nyaman berangkat ke sekolah dengan sepeda dan berangkat bersamaku. “Hai Vi, pa kabar? Kapan kamu pulang?” tanyaku. “baik Ren! Kemarin malam aku baru sampai kok ren. Oh ya ini untuk kamu!” balas via. “wah, makasih ya vi!” seruku. ”ok sama-sama, Yah udah ayo kita berangkat Ren!” tegas via. 

Aku sekolah di SMA yang termasuk favorit dan juga banyak anak-anak pejabat dan pengusaha, yah high class gitu deh! Kalau untuk bersaing masalah gengsi, tentu aku berpikir seribu kali dulu, lagian aku bisa sekolah disini karena beasiswa. Tapi, disini aku ingin bersaing dalam belajar dan menunjukkan bahwa anak-anak yang ekonominya rendah pun berhak dan bisa mendapat pendidikan yang layak. Saat aku baru ingin melangkahkan kakiku ke dalam kelas, “Hai Ren, apa kabar?” sapa Holy kakak kelasku. “Hai kak, kabar aku baik. Kakak apa kabar?” balasku. “Aku baik juga. Oh ya ren, nanti kita pulang sekolah kumpul dilapangan untuk bicarain jadwal latihan paskibra kita ya!” tegas kak Holy. “Oh, baik kak! Thanks ya buat infonya.” Seruku. “Ya udah aku ke kelas dulu ya! Hmmm... Ren! Ini untuk kamu.” Seru kak Holy. Belum sempat aku bertanya dan mengucapkan terima kasih, dia sudah bergegas pergi. Kak Holy adalah senior Paskibra di sekolahku, dia pernah terpilih menjadi paskibraka nasional. Dan dia anak seorang pengusaha, wajar kalau dia terkenal di sekolah, ditambah wajahnya yang tampan. “Ren, sepertinya dugaanku benar deh! Kalau kak Holy itu suka sama kamu.” Bisik Via. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Via membisikkan kata-kata seperti ini. “Ssst... Via jangan sembarangan ngomong loh, nanti kalau kedengaran kak Mia bisa salah paham lagi. Lagian apa yang dilihat kak Holy dari aku? Kok bisa suka sama aku? Hahaha”  candaku. “ ihhh... biarin aja Kak Mia tau. Mereka kan udah lama putus, dasar Kak Mia aja yang cari masalah. Ya jelas jauh banget dari kamu, kamu itu baik dan gak kala cantiknya kok! Hehehe” seru Via. “Kamu memuji atau menyindir Vi! Udah, udah pak Yan udah datang tuh!” tegasku.

Setelah pulang sekolah, tentu aku tidak lupa untuk kumpul dilapangan. Apapun yang bersangkutan dengan paskibra aku akan usahakan untuk Tidak ketinggalan. Jam 3 sore kami semua sudah berkumpul di lapangan, terik matahari masih sangat menyengat. Tapi buatku panasnya matahari membuat semangatku berkobar, gak lebay loh!!! Seperti pada biasanya kak Holy lah yang selalu memberikan arahan pada kami juniornya, dimana kami benar-benar harus mempersiapkan diri dan kerjasama untuk tes seleksi yang akan dimulai bulan april. Setelah mendengarkan pengarahan dari para senior, seluruh tubuhku benar-benar bergetar dan tidak sabar menunggu tes itu. Kurang lebih 2 jam pengarahan, kami bersiap untuk pulang dan jadwal latihan tetap pada hari rabu, jumat, dan sabtu. Sejak hari itu pula aku mempersiapkan diri dengan terus berlatih, tidak hanya di sekolah bahkan dirumah pun aku terus melatih langkah dan baris-berbaris. Karena dirumah pun aku mempunya pelatih yang sudah sangat senior, siapa lagi kalau bukan bundaku. Baik dari cara tersenyum, ayunan tangan, langkah kaki, dan sampai sikap tubuh aku dapatkan pelajaran yang banyak dari bunda. Aku akan terus berusaha, karena ini bagian dari mimpi besarku, aku tidak akan membuang sia-sia waktu yang cukup terbilang sangat singkat ini.

Hari demi hari aku tetap lewati dengan mengejar prestasiku, membantu bunda membuat kue, dan tentunya aku terus berlatih paskibra. Walaupun memang terasa lelah, tapi ini memang harus aku jalani. Sama halnya dengan membuat kue, untuk menjadi kue yang menarik dan enak tidak cukup hanya menyiapkan dan mengumpulkan bahannya saja. Tapi, bahan-bahan itu dicampur, diaduk, tak kala juga dipotong, diremek dengan tangan, dan semuanya melalui proses, kalau mungkin kue itu dapat bicara pasti dia mengatakan betapa susah dan sakitnya melalui proses pembentukanku. Dan itu lah yang ingin aku katakan juga, lelah, sedih, dan sakit. Tapi, aku mau dibentuk melalui proses perjalanan kehidupanku yang sudah Tuhan berikan padaku.

 Gak terasa sekarang sudah diakhir bulan maret, dan rasanya jantungku semakin berdetak kencang mendekati tes seleksi Paskibra. Tapi, aku sangat prihati dan khwatir melihat kondisi bunda yang semakin lemah. Bukan aku gak mau mengantar bunda ke dokter, tapi bunda sangat keras kepala. Setiap kali aku mengajak bunda ke dokter untuk memperiksakan kesehatannya, bunda selalu saja mengelak dan berkeras kalau dia dalam keadaan baik-baik saja. Dan aku mencoba lagi “ Bun, bunda! Bun, eiren antar bunda ke dokter ya?” tanyaku yang tidak bisa membendung air mata. “ Eiren, hapus air mata kamu dan kamu gak perlu khwatir, bunda baik-baik saja!” Jawab bunda memegang kedua tanganku. “Tapi bun, wajah bunda pucat sekali! dan lihat? keadaan bunda semakin lemah! Bun, aku gak mau dan gak rela kalau lihat bunda seperti ini.” Tegasku dengan air mata yang terus mengalir. “Sudah, sudah eiren bunda baik-baik saja dan bunda cuma butuh istirahat saja, besok pasti sudah pulih kembali. Kamu tidur ya nak?” elak bunda dengan meyakinkanku. “Baik bun, eiren tidur dulu. Tapi, Eiren mau tidur dengan bunda ya?” mintaku dengan lembut. Bunda memberi jawaban lewat senyumnya yang manis dan tarikan tangan yang lembut.

Pertengahan april akhirnya datang juga, perasaanku semakin gak karuan. Tapi, gak bisa aku pungkiri ini saat yang aku tunggu dan aku nantikan untuk menghadapi segala tes dalam seleksi Paskibra. Hari ini aku berlatih sebentar sambil menjaga bunda yang masih dalam keadaan kurang sehat, “nak? Sudah kamu gak perlu latihan lagi.” Tegur bunda. “Tapi bun, Besok kan udah tes!” balasku. “Iya nak, bunda tau kamu mau memberikan yang terbaik besok. Tapi, kamu juga harus istirahat supaya badan kamu bisa lebih segar. Bunda yakin kamu besok bisa menjadi yang terbaik, karena kerja keras dan doa kamu itu tidak akan sia-sia!” nasehat bunda. “Trima kasih bunda!” ucapku sambil memeluk bunda.

Hari yang ku nantikan dan juga mendebarkan akhirnya datang juga. Aku sengaja bangun lebih awal pagi ini, karena aku juga harus menyiapkan sarapan dan obat bunda. Aku ingin bunda benar-benar istirahat, supaya aku juga bisa fokus dalam tes hari ini. “Eiren! Eiren!” seru seseorang dari luar. “Pagi-pagi begini siapa ya yang datang?” dalam hatiku. Lalu aku bukakan pintu, dan ternyata “Via, ya Tuhan! Kirain siapa pagi-pagi udah datang ke rumah. Ya udah ayo masuk!” Ucapku terkejut. “Ren sebentar, aku gak sendiri kesini. Hmmm...” jawab Via. “Gak sendiri? Memang kamu dengan siapa? Hmmm.... mana teman kamu?” balasku sambil memperhatikan sekeliling Via. Aku benar-benar dibuat penasaran oleh via pagi ini, aku tidak melihat siapa pun berada didekatnya. Dan pada akhirnya via memanggil seseorang, “Kak! Ayo kesini?” panggil Via ke arah pagar rumahku. Tiba-tiba keluar seseorang memakai jaket merah dari sebuah mobil dan semakin dekat dia melangkah “Vi, itu...itu kak Holy kan?” tanyaku dengan pandangan yang terfokus pada seseorang itu. “Hehehe, iya Ren!” jawab Via singkat. Tidak lama setelah itu, “Hai Ren, maaf ya aku gak bilang dulu kalau mau ke rumah kamu?” sapa kak Holy dengan pandangan yang lembut. “Iya, gak apa-apa kak! Eiren cuma sedikit kaget. Oh ya kak, inilah istana aku dan bunda yang gak sebanding dengan istananya kak Holy!” balasku. “Hahaha,,,, memang aku datang karena istana kamu ini? Aku kan datang karena pemilik istana ini!” seru kak Holy dengan gurauannya. “hmmmmm... jadi lupa ni sama orang ketiga?” seru Via dengan senyuman yang mendalam. Saat mataku terarah pada jam, “ya Tuhan aku hampir terlambat! Aduh, aku sekarang harus ngapain?” tanyaku dengan bingungnya. “Ren, kamu tenang dulu! Gak usah panik kayak itu.” Tegas bunda yang tiba-tiba keluar dari kamar. “Bun, bunda istirahat aja!” seruku meminta. “eeeeh... ada Via dan ...?” sapa bunda pada Via dan kak Holy. “saya Holy tante! Kakak kelasnya Eiren.” Balas Kak Holy. “Ren, kamu berangkat aja, masalah bunda nanti biar aku yang jaga ya!” seru Via dengan semangatnya. “Iya, kan ada Via disini. Jadi, kamu kan bisa fokus sama tes hari ini! Sudah kamu berangkat sekarang!” tegas bunda. “Ren, kamu berangkat sama aku aja! Ya setidaknya akan lebih cepat.” Ajak Kak Holy. Akhirnya, aku pun berangkat dengan kak Holy yang berniat baik. 

Tiba ditempat tes, perasaanku semakin tidak menentu. Begitu banyak pesaingku, satu persatu aku lihat postur tubuh mereka yang mendekati sempurna untuk lulus dalam tes ini. “Ren,,, tenang aja. Aku yakin kamu bisa!” seru kak Holy dengan semangat yang diberikan padaku. “iya kak. Semangat dari kakak berarti buat eiren. Trima kasih!” balasku dengan perasaan yang lebih tenang. Aku tetap harus berusaha, walaupun ada kak Holy yang juga menjadi tim yang mengetes kami juniornya. Tes demi tes aku lewati, dari tes baris-berbaris, langkah, tes pengetahuan umum, dan kesehatan. Terlihat mudah, tapi buat aku itu tes yang sangat menegangkan. Karena ini kesempatan terakhir untuk aku bisa meraih mimpiku menjadi bagian dari pengibar bendera diulang tahun kemerdekaan Indonesia. Tes berlangsung dari pagi hingga sore, tidak ada kendala bagi kami peserta dalam tes kali ini, tapi tentu saja kami akan diseleksi dari semua yang baik akan dipilih yang terbaik. Terutama untuk aku, apapun yang terjadi bunda selalu mengajarkanku untuk berjiwa besar menerima apa yang memang belum bisa kita raih. Tapi, aku pun tidak akan menyerah untuk menjadi pengibar bendera.

Mataku serasa tak dapat berkedip, tubuh ku bergetar, dan rasanya tak mampu kakiku menopang tubuhku, bahkan mulutku tak dapat berkata-kata. “Ini mimpiku” itulah kata yang keluar dari hatiku, rasa tidak percaya masih ada dalam benakku. Namun suara itu semakin menggema dan menggetarkan telingaku, tapi itulah yang aku mimpikan. Menjadi Paskibraka kota pun sudah menjadi kebanggaan untukku. Tapi, tak satu pun nama kebanggaanku disebut, kepercayaan diriku pun berkurang seolah harapan pun semakin jauh dari mimpiku. Namun, telingaku masih mendengar apa yang harus kudengar. Aku sampai tidak menyadari pengumuman untuk Paskibraka Provinsi pun hampir selesai, hanya tinggal 2 peserta lagi yang akan mendapat posisi ini. “Dua peserta lagi yang akan mendapat posisi di Paskibraka Provinsi. Dan dua peserta itu adalah Carolin dan Anton. Perasaan ini semakin menyakitkan, aku benar-benar terjatuh dalam kekhawatiranku. “Tidak, itu mimpiku!” seru hatiku sambil menyadarkan diriku yang seperti tak bernyawa lagi. Aku ingin menangis, tapi menangis pun rasanya aku tak mampu. Tiba-tiba beberapa seniorku mendekat padaku, “mengapa mereka mendekati aku? Apakah aku terlihat begitu menyedihkan?” tanyaku dalam hati. “Dan... selamat untuk Eirene Agustina. Kamu akan menjadi bagian Paskibraka di istana negara... Yang berarti kamu menjadi Paskibra Nasional!” Tegas dari Pak Seno yang juga Senior Paskibra Nasional. “oh... rasanya aliran Merah dan Putih merasuk dalam jiwaku yang seperti menghidupkan mimpiku lagi.” Benakku bersenandung. Kebahagiaan ini mahal harganya, dan tak dapat diganti oleh kebahagian lain. Setelah para senior memberikan selamat, aku masih menunggu ucapan selamat dari Kak Holy yang belum kunjung aku dengar sampai lapangan menjadi sepi. “hmmm, sepertinya aku pulang saja!” tegasku dengan perlahan. “Selamat... selamat ya Eiren!” suara dari belakangku. “oh, trima kasih!” balas ku sambil berbalik arah. “Kak Holy? Trima kasih sekali lagi kak!” sapaku terkejut. “Kamu akan masuk asrama, dan pasti cukup lama aku tidak akan bertemu kamu Ren! Makanya aku harus katakan saat ini juga.” Tegas Kak Holy yang terlihat begitu serius. “Kakak mau katakan apa?’ tanyaku dengan dengan nada yang sedikit terbatah-batah. Aku terus memperhatikan kak Holy yang beberapa kali menghelai nafasnya, dan berusaha untuk mengatakan sesuatu padaku. Aku jadi penasaran dengan kak Holy, sebenarnya apa yang mau dikatakannya padaku. “Eiren,  hmmm... cukup lama aku meyakinkan perasaanku. Dan kali ini aku sangat yakin dengan perasaanku.” Ucap kak Holy yang terdiam sejenak. “Eiren, aku sayang dan sangat mencintai kamu! Hari ini baru aku punya keberanian mengatakannya. Apa kamu mau menjalani hubungan denganku Eiren?” pernyataan kak Holy yang mengejutkanku. “Kak Holy, barusan Eiren gak salah dengarkan? Kak, maaf Eiren belum bisa jawab! Bukan karna Eiren gak suka sama kakak, tapi Eiren juga harus lebih meyakinkan perasaan Eiren. Maaf kak, Eiren gak bisa jawab sekarang!” tegasku sambil membalas pandangan kak Holy. “Ya, no problem Ren! Aku ngerti kok. Aku akan tunggu jawaban kamu sampai kapan pun.” Balas kak Holy dengan penuh pengertian. Hari sudah sore, dan ketegangan tidak begitu lama menghantuiku. Aku pulang diantar oleh kak Holy, dan perasaanku bertambah tidak enak, karena kak Holy begitu baik padaku.
Dengan tetap mengutamakan akademik, aku juga harus belajar untuk menghadapi uijian kenaikan kelas. Dan tentunya aku juga mempersiapkan diri untuk tinggal di asrama dalam pembekalan. Berada disekeliling penjabat-pejabat penting dan presiden mungkin memang menjadi kebanggaan, tapi buat aku itu bukan suatu hal yang utama khususnya buat kepuasan hatiku, melainkan rasa bangga pada bangsaku.
Tiba saat hari pembekalan. “Nak, kamu jaga diri dan sikap selama diasrama ya? Bunda bangga sama kamu!” nasihat bunda dengan lembut sambil mencium keningku. “iya bunda, ini semua juga karena doa dan cinta bunda. Bunda tetaplah sehat untukku ya!!!” ucapku dengan penuh harapan. “Iya sayang, ya sudah kamu berangkat sekarang supaya nanti gak telat!” seru bunda.

Selama dipembekalan aku benar-benar merasakan banyak pelajaran dan tentunya kemandirianku semakin terbentuk. Hari ini bulan agustus tepatnya tanggal 16, aku senang karena tinggal besok aku akan beraksi bersama-sama teman paskibraka untuk mengibarkan sang merah putih. Tapi, aku juga sedih karena aku jauh dari bunda dan ulang tahunku kali ini tanpa bunda disampingku. Hari ini aku tidak sama sekali membuang waktu dengan percuma, dan mempersiapkan segala sesuatu untuk besok tanggal 17 agustus di HUT RI ke-67. Hari ini kami juga dibebaskan untuk berkomunikasi dengan keluarga, jadi aku terlebih dahulu menelpon bunda. “Halo! Eiren?” jawaban dari handphone bunda yang ternyata terdengar suara Via. “Vi? Ini kamu? Aku mau mgomong sama bunda vi, tolong kasih handphonenya sama bunda ya?” mintaku dengan perasaan tidak enak. “iya Ren ini aku. Hmmm... Ren, sebenarnya aku gak boleh bilang ini ke kamu sama bunda!” seru via dengan nada cemas. “Vi? Ada apa? Perasaanku gak enak Vi? Vi, tolong kasih tau aku?” mintaku dengan desakan. “Vi, bunda kamu sudah 2 hari berada di rumah sakit! Dia pingsan dan untungnya saat itu aku memang mau ke rumah kamu.”  Jawab Via. “apa? Bun, bunda di rumah sakit? Vi, gimana keadaan bunda? Dia baik-baik aja kan? Vi, aku harus jenguk bunda?” tanyaku dengan sangat khawatir. “Via, biar bunda yang bicara dengan Eiren!” terdengar suara bunda yang terdengar lemah. “Bunda!” sapa Via yang terkejut. “Eiren, bunda baik-baik saja disini! Bunda akan tambah sakit kalau kamu meninggalkan mimpi kamu! Lakukan yang terbaik, bunda sangat sayang dengan Eiren! Ya nak?” ucapan bunda yang membuat aku tak mampu berkata. Aku hanya bisa menangis, dan rasanya susah sekali untuk menahan desahan tangisku. “Baik, baiklah bun! Eiren akan memberikan yang terbaik. Dan bunda harus janji, bunda akan menunggu Eiren!” tegasku dengan sambil menguatkan hati. “Trima kasih sayang!” balas bunda dengan singkat. Semalaman hanya tubuhku yang berbaring istirahat, namun mata dan pikiranku tidak dapat istarahat.
Hari yang sangat bernilai dan berarti buatku, akhirnya tiba. Mengenakan baju putih, selendang merah putih dileher, dan tentunya memakai peci yang bukan sembarang peci adalah awal dari tugas menuju mimpiku. Kami semuanya para petugas upacara benar-benar dibuat sibuk dan gugup ditengah detik-detik upacara. Sebelum kami bertugas, kami semua saling bergandengan, berdoa untuk kelancaran upacara hari ini, dan tentunya menyatukan tangan. Upacara Hut RI ke-67 dimulai, serangkaian susunan acara dibacakan dan saat-saat yang ditunggu akhirnya datang juga. Kami para petugas paskibraka beraksi dilapangan, aku bertugas sebagai Baki pagi dan ini sangat luar biasa untukku. Saat aku mengambil bendera dari inspektur upacara yang tidak lain adalah Presiden RI, dan momen itu tak dapat aku lukiskan dengan kata-kata. Aliran darahku terasa mengalir begitu cepatnya, langkah demi langkah aku turun dari tangga dengan tetap fokus. Sesampainya ditiang bendera, dengan tetap tersenyum aku teringat oleh bunda yang terbaring dirumah sakit. Sang Merah Putih yang berada ditanganku seakan menguatkanku dan memberikan keberanian untuk aku melangkahkan kaki menghantarkannya untuk berkibar. Walaupun aku tak bisa melihat langsung berkibarnya Sang Merah Putih, karena saat memberi hormat aku memang tidak melihat sampai ketiang paling atas. Namun, aku bisa merasakan kibaran yang sangat indah. Selesai upacara, aku lari ke lapangan mendekat pada tiang dimana sahabatku berkibar. Aku berdiri tegap, dan memberi hormat. “Hai sahabat, tetaplah berkibar supaya aku tetap bisa bermimpi, tetaplah Merah Putih agar aku punya identitas menyatu dalam darah dan tulangku. Benderaku, tetaplah berada dan berkibar ditiang yang tertinggi, menyapa langit dan matahari. Mari! kita bersama-sama mempertahankan kemerdekaan ini, dan menyatukan bangsa ini menjadi satu yaitu Indonesia!” seruan dalam hatiku pada Sang Merah Putih.

  Perjalanan dan pengalaman hidupku masih panjang, jadi ini belum berakhir. Aku bahagia walau dalam kesederhanaan, karena ada bunda disampingku. Aku sempat khawatir dengan penyakit bunda, namun aku bersyukur keadaan bunda sudah membaik dan aku mengucapkan trima kasih pada Via teman baikku yang banyak membantu aku menjaga bunda, dan tentunya menerima aku dengan baik sebagai sahabatnya. Satu lagi seseorang yang juga sangat baik padaku, yang tulus mencintaiku yaitu kak Holy. Karena Sang Merah Putih juga kami bisa saling memiliki, dan aku menerima kak Holy sebagai teman dekatku dan juga berharap menjadi masa depanku.
DIRGAHAYU Indonesiaku Ke-67

Tidak ada komentar:

Posting Komentar